Indonesia Dinilai Belum Siap Adopsi 5G di 2021

Jakarta, Selular. ID – Kehadiran 5G akan meningkatkan sekaligus memajukan pengalaman selular dengan pengurangan latensi, biaya per bit kecil, kecepatan data yang konsisten & lebih tinggi. Segmen lain, yaitu game real time, AR, VR, dan MR juga akan berdampak besar dengan hadirnya 5G.

Meski demikian, layanan 5G belum bisa dinikmati masyarakat Nusantara dalam waktu dekat. Indonesia di dalam hal ini, dinilai masih belum siap untuk mengadopsi jaringan generasi kelima tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Nonot Harsono, selaku Kabid Infrastruktur Broadband Nasional Mastel di diskusi Selular Digital Telco Outlook bertajuk ‘Kebijakan Network Sharing dan Frequency Sharing dalam UU Membuat Kerja, Jembatan Menuju 5G? ’, Selasa (15/11).

Dirinya menyampaikan bahwa ada dua alasan mengapa 5G belum siap hadir, antara lain persoalan terkait spektrum frekuensi dan fiberisasi. Belum adanya spektrum frekuensi istimewa 5G dikatakan Nonot sebagai ‘masalah utama’.

Tantangan ke-2 disampaikan Nonot adalah fiberisasi ataupun upaya digitalisasi jaringan dengan cara menguhubungkan BTS melalui jalur fiber optic. Dalam hal ini dirinya mengatakan bahwa ‘fiberisasi harus dikebut’.

“Jadi tahun 2021 dan 2022 itu sebagai tahun persiapan (5G di Indonesia), ” imbuhnya.

Sementara tersebut senada dengan Nonot, Dian Siswarini selaku Direktur Utama XL Axiata mengakui kendala adopsi 5G dalam tahun depan berada pada ‘belum tersedianya spektrum’.

“karena sampai sekarang pun ketersediaan skala belum ada, sehingga para operator lebih harus mutar otak. ” ujarnya

Adapun, belum adanya spektrum dikatakan Dian dapat menghambat adopsi 5G di tahun depan. “Sepertinya belum bisa menerapkan 5G pada 2021, ” ujarnya.

Meski demikian, perusahaannya sebagai salah satu operator di Indonesia sudah menyiapkan Infrastruktur pembantu sejak 2018.

“Dalam 2 tahun belakangan Kami terus-menerus gelar fiber optic untuk persiapan 5G jadi kalo nanti mendadak, mungkin tidak sempat kami telah mulai dengan jaringan transisi untuk mendukung 5G. ” jelas Dian.

Baca juga: Mengukur Kebijakan Network Sharing dan Frequency Sharing dalam Persiapan 5G

Penerapan 5G sendiri diproyeksikan dapat menyumbang 9, 3 sampai 9, 5 persen Produk Pribumi Bruto (PDB). Nilai pendapatannya bisa berada dikisaran Rp2. 802 sampai Rp2. 874 triliun pada 2030 nanti. Hasil studi itu didapat dari Institut Teknologi Bandung.

Dilaporkan, setidaknya pemerintah Nusantara bisa memulai implementasi 5G di dalam 2021 atau paling telat dua tahun berikutnya, di 2023. Kalau tidak, Indonesia dikatakan bisa selalu mengalami potential loss ekonomi menyentuh Rp1. 600 triliun.