Inggris Pertimbangkan Kemungkinan Penyelidikan Terhadap Om google

Jakarta, Selular. ID – Regulator persaingan usaha Inggris melahirkan bahwa mereka sedang menilai apakah keluhan tentang Google, terkait iklan digital memerlukan penyelidikan hukum pertandingan formal. Rencana penyelidikan dilakukan sebagai respon dari keluhan yang dilayangkan Pemasar untuk Web Terbuka (MOW), sebuah koalisi perusahaan teknologi dan penerbitan di Inggris.

Koalisi itu menginginkan Otoritas Persaingan dan Pasar (CMA), dapat menunda peluncuran teknologi Privacy Sandbox milik Google. MOW mengatakan bahwa teknologi tersebut akan menghapus fitur-fitur seperti login dan iklan dari web terbuka dan menempatkannya di bawah kendali Google.

“Kami menangani masalah yang diangkat dalam pengaduan dengan sangat betul-betul, dan akan menilai mereka dengan hati-hati untuk memutuskan apakah bakal membuka penyelidikan formal berdasarkan Competition Act, ” kata CMA dalam pernyataan resmi seperti dilaporkan Reuters (23/11).

“Jika urgensi kekhawatiran mengharuskan kami untuk campur tangan dengan segera, kami juga akan menilai apakah akan memberlakukan tindakan sementara untuk memerintahkan penangguhan setiap perilaku anti-persaingan yang dicurigai menunggu hasil pengkajian penuh”, tambah CMA.

MOW mengatakan browser Google Chrome serta alat pengembang Chromium sedang dimodifikasi untuk memberikan kontrol yang lebih besar terhadap bagaimana penerbit serta pengiklan dapat beroperasi. Perubahan tersebut dijadwalkan dapat diimplementasikan secara penuh pada awal 2021, kata MOW.

“Jika Google merilis teknologi ini, mereka akan secara efektif memiliki sarana yang digunakan perusahaan media, pengiklan, dan bisnis teknologi untuk menjangkau konsumen mereka dan perubahan itu tidak dapat diubah, ” sebutan Direktur MOW James Rosewell.

Di bagian lain, Google mengatakan teknologi tersebut akan memungkinkan orang menerima propaganda yang relevan – membantu menjaga model periklanan saat ini – tanpa melacak pengguna pada level individu. Pengiklan akan dapat menargetkan sekelompok orang tanpa membiarkan keterangan pengenal individu keluar dari browser.

“Web yang didukung iklan berisiko kalau praktik periklanan digital tidak berkembang untuk mencerminkan ekspektasi orang dengan berubah tentang cara data dikumpulkan dan digunakan, ” kata Google.

“Itulah mengapa Google memperkenalkan Privacy Sandbox, sebuah inisiatif terbuka yang dibangun bekerja sama dengan industri, buat memberikan privasi yang kuat bagi pengguna sekaligus mendukung penerbit. ”

CMA telah menghabiskan satu tahun buat mempelajari periklanan digital. Badan penilik mengatakan bahwa dua raksasa teknologi, Google dan Facebook telah menggelar posisi pasar yang tidak bisa disangkal, dengan keduanya menyumbang dekat 80% dari belanja iklan digital Inggris sebesar 14 miliar pound ($ 17 miliar) pada 2019.

Tetapi, penyelidikannya, yang berakhir pada Juli, merekomendasikan perubahan peraturan ketimbang pengkajian pasar. Chief Executive CMA Andrea Coscelli mengatakan dalam pidatonya di dalam Oktober lalu, bahwa alat dengan ada “jelas tidak cukup untuk mengatasi” potensi bahaya, meskipun mereka akan terus digunakan.

“Rekomendasi utama kami adalah bahwa rezim peraturan terakhir diperlukan di Inggris untuk meyakinkan pasar ini terus memberikan laba bagi konsumen, bisnis, dan ekonomi secara keseluruhan”, ujar Coscelli.

Di lain pihak, Rosewell mengatakan regulator secara global sedang melihat dominasi Google dalam penelusuran, iklan online, serta browser.

“Namun, upaya mereka untuk mengurangi kekuatan monopoli ini akan serampangan jika Google berhasil mengkonsolidasikan dominasinya melalui pengenalan Privacy Sandbox sebelum perubahan undang-undang yang direkomendasikan regulator diterapkan, ” katanya.

Jika CMA pada akhirnya melakukan penyelidikan hukum kepada Google, Inggris bergabung dengan sejumlah negara yang sudah menyatakan perilaku terhadap raksasa mesin pencari tersebut, seperti Korea Selatan, India & AS.

Untuk diketahui, Komisi Persaingan Usaha Korea Selatan mengatakan pada Kamis (22/10) bahwa raksasa mesin pencari AS Google telah merusak persaingan, memasukkan bahwa pihaknya berencana untuk mengajukan kasus kepada komite peninjau pada akhir tahun ini.

Joh Sung-wook, kepala Komisi Perdagangan Adil Korea (KFTC), mengatakan sedang menyelidiki tuduhan bahwa Google membatasi persaingan di rekan aplikasi selular dan pasar pola operasi.

Seperti halnya Korea Selatan, India juga sudah menabuh genderang perang terhadap Google. Pada Mei 2019, Komisi Persaingan India (CCI) menetapkan untuk meningkatkan status pemeriksaan menjelma penyelidikan menyeluruh.

Google dituduh menyalahgunakan letak dominan dalam platform Android untuk menekan para pesaing. Tuduhan tersebut termasuk menyalahgunakan posisi pasarnya buat mempromosikan aplikasi pembayaran selulernya secara tidak adil. Keputusan tersebut diambil setelah CCI menentukan keluhan kepada perusahaan yang pantas dilakukan setelah penyelidikan awal.

Mengikuti jejak Korea Daksina dan India, pemerintah AS pula telah mengajukan gugatan antimonopoli terhadap Google pada Oktober lalu. Manusia besar teknologi yang berbasis di Mountain View – Calfornia itu, dituduh telah menyalahgunakan posisi karena pendudukan pasar yang dominan.

Gugatan yang dilayangkan pemerintah AS ini menjadi babak baru, sekaligus menandai tantangan terbesar terhadap kekuatan dan pengaruh Big Tech dalam beberapa dekade. Gugatan tersebut dapat mengarah di pembubaran sebuah perusahaan ikonik yang hampir identik dengan internet & mengambil peran sentral dalam kesibukan sehari-hari miliaran orang di semesta dunia. Namun proses pembubaran masih belum dapat dipastikan. Penyelesaian daripada kasus tersebut kemungkinan akan membutuhkan waktu bertahun-tahun.